Foto : Istimewa

JPPI: Pengangguran Tinggi, Tidak Ada Link and March Pendidikan dan Dunia Kerja

rhr | Kamis , 10 Agustus 2017 - 08:45 WIB

Publicapos.com- Penguatan  pendidikan vokasi di SMK dan Perguruan Tinggi (PT) oleh pemerintah belum maksimal. Padahal, tujuan utama dari program vokasi tersebut untuk menyiapkan generasi bisa langsung terjun ke dunia kerja, dan mempunyai peranan penting untuk menyiapkan tenaga kerja yang siap pakai di skala industri.
 
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2016, menyebut jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,02 juta orang. Dari jumlah tersebut, tingkat pengangguran tertinggi berasal dari jenjang SMK (9,84 persen). Kemudian disusul lulusan Diploma I, II, dan II (7,22 persen) dan lulusan SMA (6,95 persen).
 
Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) melihat data di atas masih sangat fantastik. JPPI menilai ada ketidak-sesuaian (mismatch) antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Masih banyak dunia Industri yang mengalami kesulitan untuk merekrut tenaga kerja terampil yang sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan dan siap pakai.
 
"Artinya, dunia kerja masih timpang, di satu sisi terdapat kekosongan peluang kerja dan menunggu hasil pendidikan (output), di sisi lain terjadi kelebihan kapasitas (overloaded) dan pasti menghasilkan pengangguran terdidik," jelas Koordinator JPPI, Nailul Faruq, Kamis (10/8/2017).
 
Ia melanjutkan, Indonesia akan menghadapi bonus demografi, yakni sekira 70 persen warganya merupakan usia produktif. Menghadapi peluang tersebut, peran pendidikan menjadi penting, khususnya yang pendidikan yang berbasis keterampilan.
 
"Rekomendasi JPPI, pertama, para pelaksana pendidikan harus melaksanakan peran dan fungsinya sesuai dengan program kerja yang telah disusun," bebernya.
 
Kedua, katanya, perlu penguatan pendidikan vokasi dalam sebuah kurikulum yang matang, dan harus dilakukan pengkajian ulang dan mendalam pada Kurikulum 2013 dengan memasukkan materi penguatan vokasi dalam kurikulum tersebut.
 
"Ketiga, peningkatan mutu dan kualitas guru juga sangat mendesak untuk diperbaiki, persoalan vokasi tidak akan lepas dari kualitas guru yang terampil dan pengalaman dalam bidang kejuruan," jelasnya.
 
Keempat, harus ada koordinasi dan sinergi yang kuat antar kementerian terkait untuk memaksimalkan peran vokasi sebagai cikal bakal tenaga kerja yang unggul. Karena dalam hal mengatasi angka pengangguran tidak bisa dilakukan dengan satu kementerian saja, tapi saling berkaitan. (rhr)
 


Kemenristekdikti: Audit Teknologi Untuk Mendorong Inovasi dan Kemandirian Bangsa

Kemenristekdikti: Pengelolaan Arsip Perguruan Tinggi Sangat Penting dan Strategis

Menristekdikti: Bangsa yang Besar Adalah Bangsa yang Berinovasi

Terkait Revolusi Industri 4.0, Nasir: Kita Harus Rubah Paradigma Perguruan Tinggi