Foto : Hakim Mahkamah Agung, Prof Dr Topane Gayus Lumbuun, S.H., MH saat mengisi seminar hukum IMMH UI, Selasa (13/9/2017). (IMMH for Publicapos.com)

Pesan Hakim MA, Tiga Trend yang Perlu Diantisipasi Profesional Hukum

Kis | Rabu , 13 September 2017 - 21:25 WIB

Publicapos.com - Pesatnya perkembangan sekarang ini, guna menghadapi isu global yang santer profesional hukum harus mengantisipasi tiga hal penting. Pesan Kaynote Spekaer Prof Dr Topane Gayus Lumbuun, S.H., MH pada Seminar hukum yang diselenggarakan Ikatan Mahasiswa Magister Universitas Indonesia (IMMH-UI), Selasa kemarin, (12/9/2017). 
 
Point pertama yang perlu diperhatikan, kata Hakim Mahkamah Agung RI, yaitu perkembangan kesepakatam perdagangan bebas kawasan. Selanjutnya, perkembangan sektoral bidang hukum tertentu. Terakhir, semakin menguatnya organ nonpemerintah. 
 
Baca juga: Seminar Perdana IMMH UI, Dibanjiri Para Profesional Hukum
 
"Maka demi mempersiapkan profesional hukum dalam menghadapi trend global ini, pendidikan hukum memiliki peran yang sangat vital," jelasnya. 
 
Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Topo Santoso, menjelaskan kampus hukum di Indonesia sudah berusaha merespons perkembangan global dengan penataan ulang standar kompetensi lulusan serta kurikulum. "Di FH UI sendiri kurikulum baru telah diluncurkan sejak tahun 2013. Lulusan FH UI dipersiapkan lebih mahir dalam kemampuan aplikatif dan analisis berdasarkan kebutuhan pengguna layanan dari profesi hukum," bebernya, saat menjadi panelis. 
 
Agar tidak tertinggal dengan kualitas lulusan hukum di negara lain diperlukan usaha lebih dalam melengkapi kemahiran hukum yang didapatkan selama perkuliahan. “Mahasiswa mesti menyadari mereka ini bukan hanya bersaing di level hukum, tapi di level global,” ujar Topo sebagaimana dikutip wartawan hukumonline.
  
Selain penguasaan bahasa asing, Topo menyarankan mahasiswa hukum  meluangkan waktu untuk magang. Meskipun saat ini FHUI, misalnya, tidak mewajibkan magang profesi hukum bagi mahasiswa, menurutnya pengalaman magang menjadi modal penting sebelum meraih gelar sarjana hukum agar memiliki nilai kompetitif lebih.
 
Intinya, mahasiswa hukum harus lebih giat melengkapi bekal akademik dan softskill selama di kampus dengan pengembangan diri lainnya yang berkaitan dengan bidang profesi hukum yang akan digeluti. Artinya tidak hanya sekadar bergantung pada kurikulum akademik.
 


KY Serahkan Dua Nama Calon Hakim Agung Periode II ke DPR

OTT di Biltar dan Tulungagung, KPK Boyong Wali Kota Blitar dan Tiga Orang Lainnya ke Jakarta

OTT KPK di Biltar dan Tulungagung, 5 Orang dan Duit Rp2 Miliar Diamankan

Agendanya Padat, Bamsoet Minta KPK Jadwal Ulang Pemanggilan Dirinya