Foto : Ruchman Basori, Kepala Seksi Kemahasiswaan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI

Defisit Nasionalisme Berharap Kepada Pramuka

Admin | Jumat , 30 Maret 2018 - 13:56 WIB

Publicapos.com - Gerakan Kepanduan menjadi embrio Gerakan Pramuka. Wadah untuk menyemai nilai-nilai kecintaan terhadap bangsa dan negaranya, serta mengajarkan kebersamaan, tolong menolong, disiplin, tanggungjawab, kemandirian, jiwa ksatria. Itu semua menjadi nilai yang dihunjamkan dalam watak dan karakter anggota pramuka sejak dulu hingga sekarang.
 
Berseragam atasan cokelat muda dan bawah cokelat tua, dilengkapi dengan baret pramuka serta setangan leher merah putih, menjadi simbol formal. Kemudian ada lambang tunas kelapa, sebagai simbol pandu dunia. Ada pula tanda kecakapan sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya. Mereka tampak gagah, perkasa dan bersahaja. Model semacam ini yang terkadang membuat ngiler para gadis belia dan kaum muda untuk jatuh hati kepada pramuka.
 
Robert Baden Powell, pria yang lahir di Paddington, London (1857) adalah inisiator  gerakan kepramukaan di seluruh dunia. Beranak pinak tumbuh jutaan kader pramuka termasuk di negeri kita tercinta. Sejak zaman Orde Baru, hingga kini pemanggul setia tunas kelapa ini mendapat tempat tersendiri. Di era reformasi walau sempat meredup tetapi posisinya kini bertambah kuat setelah lahir undang-undang khusus tentang kepramukaan.
 
Kita banyak berharap melalui pelbagai kegiatan kepramukaan, akan muncul patriot-patriot bangsa, pejuang kemanusiaan yang tanpa batas dan tak kenal lelah. Muncul kader-kader penggerak yang lahir dari bawah (gress roote) yang memahami masalah-masalah kemasyarakatan dan kebangsaan. Ekspektasi akan lahirnya para pemimpin yang transformatif dan merakyat dipertaruhkan dalam wadah gerakan pramuka. 
 
Nilai Juang
Code of condac Gerakan Pramuka telah memberikan landasan dan nilai juang yang senantiasa hidup dan menjadi pedoman dalam cara berfikir, bersikap dan berprilaku anggota pramuka. Kita kenal 3 nilai penting yang disebutnya sebagai janji yaitu Tri Satya. "Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh: Pertama, menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan pancasila. Kedua, menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat. Ketiga, menepati Dharma Pramuka," demikian yang tertulis dalam kalbu aktivis pramuka.
 
10 landasan fundamental, etika dan moral yang senantiasa dihafalnya yang diberi nama Dasa Dharma Pramuka.  Janji dan komitmen pramuka Indonesia untuk: (1). Takwa kepada Tuhan yang Maha Esa; (2). Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia; (3). Patriot yang sopan dan kesatria; (4). Patuh dan suka bermusyawarah; (5). Rela menolong dan tabah; (6). Rajin, terampil dan gembira; (7). Hemat, cermat dan bersahaja; (8). Disiplin, berani dan setia; (9). Bertanggung jawab dan dapat dipercaya dan (10). Suci dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan.
 
Kedua tata nilai tersebut digali dari kekayaan intelektual, historis dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat (local wisdom). Karenanya para anggota pramuka disemua tingkatan dari Sabang sampai Merauke wajib mengamalkannya. Kwarnas Gerakan Pramuka sampai Gugus Depan berkewajiban menjadi pengawal agar tri satya dan dasa darma termanifestasikan dalam kegiatan perkemahan, kegiatan bhakti, seni budaya dan berbagai kegiatan teknis kepramukaan lainnya.
 
Musuh Bersama
Dekadensi moral, karakter dan akhlak bangsa yang diindikasikan dengan prilaku korupsi, kekerasan, pelecehan seksual dan tercederainya kepribadian bangsa harus menjadi konsen bersama. Angka korupsi kita walaupun mengalami penurunan, tetapi telah berdampak sistemik pada aspek kehidupan yang lain. Peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial yang mestinya dapat lebih baik, menjadi harus bersabar karena praktek korupsi yang sudah masuk ke tulang sumsum anak negeri. Ini menjadi musuh bersama kita yang harus kita perangi.
 
Kontestasi paham keagamaan yang akhir-akhir ini berkembang dan masuknya paham keagamaan dan gerakan trans nasional yang mengusung idiologi khilafah Islamiyah menambah keprihatinan kita sebagai bangsa. Gerakan Islam baru yang masuk ke negara kita disinyalir telah mulai tumbuh setidaknya sejak tahun 1980-an melalui forum-forum kajia di Rohis-Rohis Sekolah dan masjid-masjid kampus dalam bentuknya ke gerakan usrah. Dikhawatirkan ini menjadi pintu bagi bibit-bibit paham dan gerakan keagamaan di luar mainstream dj Indonesia. Semangat kebangsaan kita terdistorsi justeru oleh produk pendidikan kita sendiri. Kekhawatiran adanya devisit nasionalisme menjadi alasan.
 
Pada saat yang sama, muncul berita bohong (hoax) menjadi konsumsi sehari-hari dan melahirkan rasa memudarnya kepercayaan warga negara terhadap pemimpin bangsanya. Fitnah dan konflik di media sosial (dunia maya) yang akhirnya sampai ke dunia nyata menjadi masalah tersendiri. Masjid, sekolah, madrasah dan majlis-majlis taklim juga tidak serta merta terbebas dari pengaruh hoax dan paham radikal yang mestinya harus menjadi desiminator Islam yang rahmatan lil alamin.
 
Kita banyak berharap kepada kekuatan masyarakat (civil society)  dalam hal ini Gerakan Pramuka dan Ormas Kepemudaan semacam Ansor dan Banser. Selama ini organisasi itu, mempunyai akar yang kuat di masyarakat dan mempunyai struktur dari Pimpinan Ranting hingga Pimpinan Pusat. Dari Gugus Depan sampai Kwarnas. Mereka juga mempunya sistem kaderisasi dan tata nilai yang berkembang kuat. Relatif mapan untuk membangun gerakan nasionalisme.
 
Musuh bersama kita adalah kelompok yang anti Pancasila dan NKRI. Kelompok yang mengusung idiologi kekerasan yang kadang mengatasnamakan agama. Mereka tidak ingin Indonesia dengan 260 juta penduduknya hidup aman, damai dan sejahtera. Mereka adalah kelompok yang mencintai agamanya tetapi abai terhadap bangsa dan negaranya. Sebaliknya muncul kelompok yang mencintai agama dan bangsanya namun abai terhadap agamanya. 
 
Yang dibutuhkan sekarang adalah profil anak bangsa yang mencintai agama dan juga bangsa dan negaranya. Demikian pula sebaliknya. Sekali lagi bangsa ini menaruh harapan yang besar pada Gerakan Pramuka yang kini menjamur dalam wadah-wadah lembaga pendidikan dan teriotori tertentu. Pesan yang ingin disampaikan adalah agar tidak terjadi devisit nasionalismenya.
 
Penulis
Ruchman Basori
Kepala Seksi Kemahasiswaan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam
Kementerian Agama RI


Kembali Ke Fitrah Kemanusiaan, Bangsa yang Merdeka

Kekecualian Nahdlatul Ulama

Urgensi Regulasi Sistem Ekonomi Pancasila

Banyak Pemimpin Muda Terlibat Korupsi, Citra Generasi Milenial Dipertaruhkan