Foto : Beda versi antara polisi dan pihak keluarga terkait penyebab kematian dua anak gara-gara pembagian sembako. (istimewa)

Beda Versi Keluarga dan Polisi Terkait Tewasnya Dua Anak Gara-gara Pembagian Sembako

Ind | Rabu , 02 Mei 2018 - 06:15 WIB


Publicapos.com - Pesta Rakyat dan bagi-bagi sembako di Monas Jakarta Pusat yang diadakan Forum Untukmu Indonesia pada Sabtu 28 April 2018 lalu, memakan korban. Dua remaja bernama Mahesha Junaedi dan Rizki menghembuskan napas terakhirnya usai mengantre sembako.

Dalam pernyataan, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono menerangkan bahwa kedua korban itu tewas bukan karena ikut antre sembako.

Argo menjelaskan, awalnya polisi mendapat informas mengenai remaja yang pingsan di luar kawasan Monas. Menurut data yang diperoleh di lapangan, korban terkapar di seberang Markas Besar Angkatan Darat.

"Ada Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja) membawa pakai ambulans, mereka membawa ke RS (Rumah Sakit) Tarakan. Setelah dicek di RS Tarakan masih hidup," katanya.

Argo menambahkan, korban baru meninggal dunia sesampainya di rumah sakit. dia mengatakan, pada Minggu 29 April 2018, polisi kembali mendapatkan informasi ada remaja berumur 11 tahun meninggal di RS Tarakan. Remaja itu meninggal dunia sekira pukul 05.00 WIB.

"Setelah kita tanya dokter yang jaga, yang bersangkutan kekurangan cairan atau dehidrasi dan suhu badan tinggi. Menurut keterangan orangtua korban, korban ada keterbelakangan mental," ujar dia.

Maka dari itu Argo menjelaskan keduanya tidak meninggal dunia karena antre sembako. "Tidak, kita temukan tidak mengantre," katanya.

Hal ini ditegaskan kembali oleh Kapolres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Polisi Roma Hutajulu, selaku pemegang kekuasaan di wilayah ring satu ini. Dia memastikan jika tidak ada korban yang meninggal akibat antre sembako.

"Saya nyatakan bukan ya, karena kalau bagi sembako di dalam Monas aman kondusif dan saya pantau langsung. Kalau yang bersangkutan TKP (Tempat Kejadian Perkara) pingsan di luar Monas. TKP di Jalan Medan Merdeka ditemukan petugas Satpol PP, silahkan konfirmasi ke Satpol PP yang temukan, terus dilarikan ke RS. Ditemukan jam 2 siang, meninggal dunia di RS Tarakan jam 8 malam," ucap Roma.

Namun hal berbeda keluar dari mulut orangtua Rizki yakni Kokom. Seperti dilansir viva.co.id, Kokom menjelaskan ihwal anaknya mendapatkan kupon sembako tersebut. Ia mengaku mendapatkan kupon pembagian itu dari seorang warga di kawasan Pademangan, Jakarta Utara. Berbekal kupon itu, dia dan Rizki berangkat dengan bus bersama warga lain ke Monas.

Di Monas, Kokom menggambarkan suasana pembagian yang sangat ramai. Saat antrean, terjadi dorong-dorongan yang membuat Rizki terjatuh dan terinjak. "Enggak didorong dari belakang saja, dari depan pun didorong. Anak saya didorong dari belakang enggak jatuh, dari depan (didorong) langsung begini jatuh, kakinya keinjak (jadi) biru. Sudah begitu saya dorong lagi yang depan, takut nginjak lagi kan," kata Kokom.

Kokom menuturkan, anaknya juga sempat muntah-muntah, kejang dan juga pingsan. Dalam kondisi itu, Kokom mengaku sulit mendapatkan pertolongan dari orang-orang sekitar. "Lima orang sudah saya tanya, 'Maaf bu saya mau ke sini dulu'. Ya Allah enggak mau nolong, tega bener ya sama gue ya," ujar dia.

Rizki akhirnya mendapatkan pertolongan dan dia dibawa ke bagian kesehatan di lokasi. Namun karena kondisi Rizki semakin parah kondisinya, korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Tarakan.

Di RS Tarakan, Rizki mendapat sejumlah penanganan, termasuk infus. Meskipun Rizki sempat sadar namun nyawa Rizki tak tertolong lagi dan meninggal dunia pada Minggu dini harinya. "Bertahannya sampai pagi, baru meninggal," kata Kokom.

Atas kejadian ini, Kokom meminta polisi untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Kokom merasa bahwa kejadian itu merupakan tanggung jawab dari pihak penyelenggara.

Akibat kejadian itu, dia mengatakan masih merasa sangat trauma dan selalu dibayang-bayangi wajah putranya. "Harus diusut tuntas gitu ya. Kalau ibaratnya kalau ada nyawa yang jual saya beli. Ini kan nyawa enggak ada yang jual," ujar Kokom.

Sebelumnya, Forum Untukmu Indonesia menggelar acara di Monas pada Sabtu (28/4). Berdasarkan izin awal yang diajukan ke Disparbud DKI Jakarta, acara ini merupakan gelaran seni budaya dalam menyambut hari tari internasional.

Namun setelah izin diteken Pemprov DKI Jakarta, pihak penyelenggara mengadakan bagi-bagi sembako gratis, meski sudah dilarang Pemprov. Alhasil Monas dikerumuni warga sehingga terjadi kericuhan dan kemacetan saat pembagian sembako hingga akhirnya menimbulkan korban jiwa.


Polda Akan Gelar Operasi Ketupat 2018 Pada 7 Juni

Kerap Terjadi Gesekan Saat Pilkades, Dua Wilayah ini Jadi Fokus Polres Metro Bekasi

Tingkatkan Kesiagaan, Polres Jaksel Amankan Gereja dan Tempat Ibadah Lainnya

Catat Ini Ruas Jalan yang Akan Ditutup dan Dialihkan Selama Aksi 115