Foto : Menteri Agama ajak semua orang hormati wanita bercadar. (istimewa)

Menteri Agama: Mari kita hormati mereka yang bercadar

Jyg | Rabu , 16 Mei 2018 - 15:55 WIB

Publicapos.com - Soal penggunaan cadar, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin meminta masyarakat mengedepankan toleransi dan menghormati para muslimah bercadar, selayaknya penggunaan atribut lain di tempat umum.

Menurut Lukman, penggunaan cadar adalah hak masyarakat, terutama berkaitan dengan keyakinan atau pemahaman pengamalan ajaran agama. "Mari kita hormati mereka yang bercadar seperti kita menghormati mereka-mereka yang menggunakan atribut lain di muka umum," kata Lukman ditemui di Masjid Istiqlal, Jakarta, usai menghadiri Silaturahim Kebangsaan Pembinaan Ideologi Pancasila, Rabu (16/5/2018).

Lukman menjelaskan hal ini menanggapi hoax soal diskriminasi terhadap perempuan pengguna cadar di Jawa Timur. Lukman meminta para pengguna cadar memiliki pemahaman sosial dalam berinteraksi di masyarakat dengan menyesuaikan pemakaiannya di lingkungan tertentu, seperti institusi pendidikan. "Kedua belah pihak harus bisa saling membangun kesadaran untuk saling menghormati," kata Lukman.

Sebelumnya, sebuah video perempuan bercadar digiring keluar dari bus di Terminal Gayatri, Tulungagung, Jawa Timur, menghebohkan media sosial. Terlebih publik masih menyimpan rasa khawatir terhadap perempuan bercadar, lantaran pelaku bom bunuh diri Surabaya memakai cadar.

Menurut keterangan petugas, perempuan bercadar itu bersikap mencurigakan karena tidak mau memberikan keterangan kepada petugas terminal. Kecurigaan petugas bertambah setelah mengetahui perempuan berinisial SAN itu tidak menggunakan alas kaki sejak masuk terminal hingga naik bus jurusan Ponorogo.

Menurut pengakuan SAN, dia adalah santri Pondok Pesantren Darussalam, Kelurahan Kampungdalem, Tulungagung, yang ingin pulang ke rumah di Ponorogo tanpa izin kepada pengurus pondok.

Petugas Dishub menjelaskan SAN diturunkan karena gerak-geriknya mencurigakan dan bukan karena diskriminasi penumpang lain takut karena dia bercadar.

Sementara Polres Tulungagung membenarkan tak ada penolakan atau pengusiran terhadap perempuan bercadar itu. Petugas hanya memintai keterangan lantaran tampak kebingungan saat berada di dalam Terminal Gayatri Tulungagung.

"Ternyata dia bingung mau naik bus yang mana. Jika ada isu yang mengatakan ada penolakan dari penumpang, kami pastikan itu tidak benar," kata Kasat Reskrim Polres Tulungagung AKP Mutijat Priyambodo.

Saat dimintai keterangan oleh polisi wanita, santri perempuan itu mengaku baru saja kabur dari pondok pesantren tempatnya belajar. Santri berinisial SA itu sengaja bercadar supaya tidak dikenali dan bisa lolos keluar dari pondok pesantren.

"Alasannya kabur karena tidak betah tinggal di pondok dan ingin pulang ke rumahnya di Jenangan, Ponorogo. Kami hubungi pengurus pesantren agar menjemputnya," ujar Mustijat.

Berdasarkan keterangan pengurus pesantren, santriwati itu diketahui sebelumnya sudah tiga kali keluar pondok tanpa ijin. Polisi kemudian juga ikut mengantar santri itu kembali ke pesantren.

Setelah kejadian ini, kepolisian mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. "Jangan mudah terpancing dengan informasi di media sosial. Segera melapor ke petugas jika menemukan hal yang mencurigakan," ucap Mustijat.


Ponorogo Bentuk Tim Terpadu Penangkal Ideologi Radikal

Innalillahi Atraksi Santri Dilindas Mobil Berujung Maut, Satu Orang Tewas

Mantan Kasi Pemberdayaan Santri Kemenag Dorong mahasiswa CSS Mora IPB Bogor jadi creator dan inovator