Foto : Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Staf Ahli bupati bidang ekonomi dan pembangunan, Kepala Bidang Litbang Prov Riau, Deputi kepala Batan, saat melakukan tanam perdana padi Varietas Sidenuk, di Desa Pulau Tinggi, Kabupaten Kampar, Riau, Selasa (15/5/2018) kemarin.

Kemenristekdikti Dorong Patani Terapkan Teknologi IPAT-BO Tanam Padi Varietas Sidenuk

rhr | Rabu , 16 Mei 2018 - 18:41 WIB

Publicapos.com - Kabupaten Kampar, Riau, merupakan salah satu daerah yang melakukan Tanam Perdana Varietas Sidenuk dengan penerapan Teknologi Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik (IPAT-BO). Hal ini dilaksanakan dalam rangka perayaan Hakteknas ke-23.

Sidenuk adalah hasil perbaikan dari varietas Diah Suci yang merupakan varietas hasil persilangan Cilosari dan IR 74 yang kemudian dimutasikan dengan cara iradiasi oleh BATAN. Penanaman padi varietas ini mampu melipatgandakan hasil produksi padi di Kabupaten Kampar.

"Sidenuk diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Soalnya, satu hektare lahan bisa menghasilkan 9 hingga 12 ton padi," kata Dirjen penguatan inovasi kemenristekdikti, Dr. Ir. Jumain Appe MSi, Selasa (15/5/2018) di Pulau Tinggi.

Disampaikannya, saat ini terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan membuat petani menjadi mandiri. Dimana sebelumnya menggantungkan teknologi asing sehingga mudah tergoncang.

"Kita harus mampu mengembangkan sendiri, kreatifitas, berinovasi dan memiliki jiwa wira usaha dan berkelanjutan sangat perlu, terutama saat ini, jika tidak akan ketinggalan dengan bangsa lain," jelasnya.

Selain Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, hadir pada kegiatan itu, Staf Ahli bupati bidang ekonomi dan pembangunan, Kepala Bidang Litbang Prov Riau, Deputi kepala Batan, Kepala Desa pulau tinggi Kec. Kampar, para kepala badan/dinas kabupaten/kota berserta jajaran pemerintah Kabupaten Kampar.

Deputi Batan, Dr. Hendik Winarno, menyampaikan Benih Varietas Invari Sidenuk dilepas tahun 2011 lalu. Dengan irigasi kurang baik saja, Varietas Sidenuk mampu menghasilkan 9 hingga 12 ton perhektare dengan waktu tanam selama 3 bulan.

"Selain lebih pulen, varietas ini juga memiliki umur yang lebih pendek. saat ini, pihaknya juga terus mengembangkan varietas yang lebih unggul. Terutama yang tahan terhadap serangan hama," kata Winarno.

Bupati Kampar diwakili staf ahli bidang ekonomi dan pembangunan, Aliman Makmur menyampaikan, potensi pertanian khususnya persawahan di Kabupaten Kampar sangat besar, namun butuh inovasi dan dukungan alat pertanian modern.

Dikatakan, Kabupaten Kampar memiliki lahan persawahan seluas 5 ribu hektare lebih dengan produksi rata-rata 3-5 ton perhektar. Saat ini pembukaan lahan persawahan baru terus dilakukan.

"Dengan Varietas Sidenuk mudah-mudahan dapat meningkatkan hasil produktifitas petani. Hal ini selain dapat membantu peningkatan perekonomian petani, juga dapat menciptakan dan mewujudkan swasembada pangan tahun 2019 sesuai harapan Bupati Kampar," ujar Aliman. (rhr)


Kemenristekdikti Akan Menyelenggarakan Anugerah Iptek Tahun 2018