Foto : Pemakaman Razan Al-Najjar dihadiri puluhan ribu warga Gaza. (DW)

Perawat Razan Al-Najjar, Angel Of Mercy yang Ditembak Mati Tentara Israel

Jyg | Minggu , 03 Juni 2018 - 23:30 WIB

Publicapos.com - Tetara Israel menembak mati seorang perawat muda bernama Razan Al-Najjar saat ia mencoba menolong pendemo yang mengalami luka-luka di perbatasan Gaza pada Jumat (1/6/2018) kemarin.

Saat peristiwa penembakan itu terjadi, Razan berada di jarak kurang dari 100 meter dari pagar pembatas. Dia sedang memperban seorang pria yang terluka akibat tabung gas air mata. Nahas, Razan terkena tembakan dan langsung rubuh ke tanah.

"Kendati mengenakan seragam putih dan telah mengangkat kedua tangannya, tentara Israel tetap melepaskan tembakan dan dia terkena peluru di bagian dada," kata seorang saksi mata.

Razan kemudian mendapatkan perawatan yang intensif oleh tim medis lainya. Namun takdir berkata lain, perawat muda tersebut akhirnya harus menghembuskan nafas terakhirnya.

Sementara Rida Najar, seorang relawan, mengatakan dia berdiri disamping Razan saat rekannya tertembak. "Saya memasuki pagar untuk mengevakuasi para demonstran. Tentara Israel menembakkan gas air mata kepada kami," ujar wanita 29 tahun itu.

"Lalu seorang penembak melesakkan sebutir peluru yang langsung diarahkan ke Razan. Pecahan peluru juga melukai tiga anggota lain dari tim. Awalnya Razan tak menyadari telah ditembak tetapi kemudian dia mulai menangis. `Punggungku, punggungku!` Dia kemudian jatuh ke tanah," papar Rida mengisahkan.

Menurut Rida, tentara Israel harusnya mengetahui jiak Razan dan timnya adalah para relawan medis. "Itu sangat jelas dari seragam kami, rompi kami, dan tas medis kami. Tak ada pemrotes lain, hanya kami," tukasnya.

Ribuan warga Palestina pun berdatangan ke pemakaman Razan. Dia dijuluki `Angel of Mercy` Paramedic alias malaikat paramedis penuh kasih. Pemakaman perempuan 21 tahun itu dihadiri puluhan ribu warga Gaza pada Sabtu (2/6/2018).

Razan menjadi korban tewas ke-119 dalam bentrokan antara demonstran Gaza dengan tentara Israel yang berlangsung sejak 30 Maret lalu. Namun jumlah total korban tewas hingga kemarin mencapai 123 orang.

Dilansir New York Times, Minggu (3/6/2018), Razan bekerja sebagai sukarelawan untuk mendobrak budaya konservatif masyarakat Palestina. Dia ingin menunjukkan paramedis bukan hanya tugas seorang laki-laki.

"Menjadi seorang pekerja medis bukan hanya tugas untuk pria. Itu juga pekerjaan bagi wanita," kata Razan saat diwawancara di perbatasan Jalur Gaza.

Razan diketahui tinggal di Khuzaa, sebuah desa yang terletak di bagian perbatasan dengan Israel, timur Khan Younis dan wilayah selatan Gaza. Ayahnya, Ashraf al-Najjar (44), memiliki toko yang menjual onderdil motor yang hancur akibat serangan udara Israel pada 2014 lalu. Sejak saat itu ayahnya menjadi pengangguran.

Razan merupakan anak sulung dari enam bersaudara. Ayahnya menyebut putri sulungnya itu tak cukup pandai saat SMA sehingga tak melanjutkan ke universitas sehingga dia berlatih menjadi paramedis selama 2 tahun di Rumah Sakit Nasser di daerah Khan Younis.

Razan kemudian menjadi sukarelawan di Palestinian Medical Relief Society, sebuah lembaga NGO bidang kesehatan. Sang ayah mengenang putri sulungnya itu bangun sebelum fajar menyingsing pada Jumat (1/6), kemudian makan dan salat sebelum memulai aktifitasnya. Itu adalah saat terakhirnya bertemu putrinya.

Saat diwawancara bulan lalu, Razan sempat mengatakan jika ayahnya bangga atas pekerjaannya. "Kita memiliki satu tujuan. untuk menyelamatkan nyawa dan mengevakuasi orang-orang. Dan mengirimkan pesan ke dunia: tanpa senjata dan kita bisa melakukan apa saja," kata Razan kala itu.


Bertemu Yahya Cholil Staquf, Netanyahu Klaim Israel Makin Akrab dengan Negara Muslim

Islamofobia di Austria: 7 Masjid Ditutup, 40 Imam Diusir

Keji! Pasukan Israel Bunuh 58 Orang Demonstran Tolak Kedutaan AS di Yerusalem