Foto : Spanduk Jalan Tol Pak Jokowi bertebaran saat mudik lebaram. (istimewa)

Fenomena Kemunculan Spanduk Politik di Musim Mudik

Jyg | Senin , 11 Juni 2018 - 21:15 WIB

Publicapos.com - Mudik merupakan tradisi mendarah daging bagi jutaan warga negara Indonesia dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri. Namun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ada yang berbeda dengan `suasana` mudik tahun ini. Kental aroma politik.

Mudik tahun ini diwarnai beragam spanduk politik dari pendukung tokoh tertentu. Setelah heboh ajakan klakson 3 kali untuk pendukung #2019GantiPresiden, dan kini muncul spanduk bertuliskan `Jalan Tol Pak Jokowi` yang jadi fenomena.

Spanduk disebar ke berbagai daerah, khususnya jalan tol untuk arus mudik lebaran. "Selamat hari raya Idul Fitri 1439 H. Pendukung #2019GantiPresiden, Anda sedang melewati jalan Tol Pak Jokowi." demikian isi tulisan di spanduk.

Spanduk politik itu pun menjadi viral di media sosial. Pendukung Jokowi menyebut hal itu muncul sebagai jawaban atas kampanye #2019gantipresiden yang digembar-gemborkan kelompok oposisi.

Diketahui, kelompok oposisi lewat deklarator #2019GantiPresiden Mardani Ali Sera, mengajak pendukung gerakannya membunyikan klakson tiga kali saat mudik Lebaran. Dia berharap klakson-klakson tersebut bisa menjadi fenomena, seperti klakson telolet.

Ajakan Mardani disampaikan melalui akun Twitter-nya, @MardaniAliSera, Selasa (5/6) lalu. "Ini ide kreatif kawan-kawan sebagai bagian dari upaya menarik perhatian publik bahwa gerakan ini didukung dengan cara kreatif," ucap Mardani saat dimintai konfirmasi pada Kamis (7/6/2018).

Dalam posting-an itu, Mardani juga menampilkan dua foto spanduk yang dipasang di jalan. Spanduk itu bertulisan 'yang setuju ganti presiden klakson 3x'.

"Akan jadi komunikasi yang indah di jalanan saat antarelemen pendukung dapat berkomunikasi dengan elegan. Welcome to the new way of communication," katanya.

Ada alasan khusus pemudik diminta membunyikan klakson tiga kali. Hanya, Mardani tak menjelaskan secara rinci soal itu. "Kayak telolet gitu, nggak kecepatan atau kelambatan," tutur Wakil Ketua Komisi II DPR itu.

Kembali ke "Selamat hari raya Idul Fitri 1439 H. Pendukung #2019GantiPresiden, Anda sedang melewati jalan Tol Pak Jokowi.",  politisi PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari mengatakan jika spanduk yang kini viral tersebut merupakan sebuah reaksi dari para pendukung #2019GantiPresiden.

"Ada aksi ada reaksi. Tahapan pilpres belum dimulai kok kampanye ganti presiden, padahal presiden Jokowi adalah presiden yang sah dan legitimate karena kinerjanya bagus, termasuk tol yang dilalui para haters tersebut," ujarnya, Senin (11/6/2018).

Sebaliknya, kata dia seperti dikutip rmol.co, para pendukung #2019gantipresiden mempunyai respon yang lucu karena menggunakan hasil kinerja Jokowi namun dengan keras menyuarakan #2019gantipresiden sebelum waktunya kampanye. "Responnya jadi lucu. Kinerjanya dimanfaatkan, melancarkan mudik, tapi delegitimasi tetap dijalankan," tukasnya.

Partai Gerindra menyebut konten spanduk tersebut menyesatkan opini publik. "Spanduk ini bukti bahwa ada opini yang menyesatkan bahwa tol ini kepunyaan Jokowi," kata anggota Badan Komunikasi DPP Partai Gerindra Andre Rosiade kepada wartawan, Senin (11/6/2018).

Andre mengatakan aksi tersebut tidak tepat karena pembangunan jalan tol berasal dari pajak rakyat. Dia berharap ada tindakan tegas dari PT Jasa Marga jika spanduk tersebut dipasang di kawasan sekitar jalan tol.

"Padahal tol dibangun memakai uang rakyat, bukan uang Jokowi pribadi. Bahkan masyarakat yang menggunakan tol juga harus bayar. Kalau itu di depan gerbang tol dan di dalam tol, seharusnya ditertibkan langsung oleh Jasa Marga," jelas dia.

Dia juga menilai pemasangan spanduk ini merupakan wujud kepanikan pemerintah lantaran tak mampu menyaingi gerakan #2019GantiPresiden yang makin viral.

"Spanduk-spanduk yang dipasang ini merupakan bentuk panik `pihak penguasa` terhadap semakin viralnya #2019GantiPresiden, sehingga mulai memasang spanduk yang isinya opini yang menyesatkan," ucap Andre.

Anggota DPD RI Fahira Idris mengungkapkan, rakyat sudah cerdas dan memahami bahwa semua hasil pembangunan infrastruktur termasuk jalan tol yang menggunakan uang rakyat dan mekanisme pembiayaan lainnya adalah milik semua rakyat, tidak peduli siapapun presidennya.

"Rakyat sudah cerdas. Saya khawatir spanduk-spanduk "Jalan Tol Pak Jokowi" ini tidak akan menuai simpati, bahkan akan dianggap oleh sebagian besar rakyat sebagai bentuk arogansi. Pendukung Jokowi harus lebih cerdas menarik hati rakyat. Model-model kampanye seperti ini kontraproduktif dan merugikan Jokowi," ucap Fahira dalam keterangan tertulis, Senin (11/6).

Senator Jakarta ini menduga, lahirnya logika-logika pendukung Jokowi yang menjadikan pembangunan infrastruktur sebagai isu utama agar Jokowi terpilih lagi pada Pemilu 2019 akibat mindset keliru yang ditanamkan, bahwa sebelum Jokowi pembangunan infrastruktur Indonesia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sekarang.

Mindset yang keliru ini mengakibatkan lahirnya klaim-klaim. Misalnya klaim bahwa baru pada masa Jokowi Papua dibangun dan klaim-klaim lain keberhasilan pembangunan infrastruktur yang sebenarnya hanya melanjutkan proyek infrastruktur pemerintah sebelumnya. Spanduk "Jalan Tol Pak Jokowi" ini, lanjut Fahira, adalah salah satu dari mindset yang keliru dari pendukung Jokowi.

"Jalan tol dibangun dari APBN, badan usaha dan juga melalui pinjaman. Rakyat yang lewat juga harus bayar, tidak gratis. Jadi nilai apa yang mau ditunjukkan kepada rakyat dengan hadirnya spanduk "Jalan Tol Pak Jokowi" ini? Jangan pernah berpikir, Presiden-presiden sebelumnya tidak melakukan apa-apa. Itu namanya buta sejarah. Jika pendukung Pak Harto dan SBY, melakukan hal yang sama, bisa kacau negeri ini," pungkas Ketua Komite III DPD ini.

Pemasangan spanduk pendukung Joko Widodo soal jalan tol yang dipasang di beberapa titik jalur mudik lebaran, merupakan pesan menohok bagi pendukung #2019GantiPresiden. Spanduk yang kini telah viral di media sosial itu menjadi pesan yang menohok bagi orang yang anti Jokowi.

"Itu bisa jadi pesan menohok buat lawan yang masif menggunakan tagar ganti presiden padahal proses ganti presiden itu kan melalui proses demokrasi dengan mengedepankan gagasan dan konsep. Namun disatu sisi sangat disayangkan," katanya.

Ramses menganggap spanduk tersebut merupakan pesan antitesis yang berisi pesan untuk orang yang tidak mendukung Jokowi. "Kemungkinan besar itu pesan antitesis dari pesan lawan politik ganti presiden. Bisa saja mereka ingin katakan bahwa kalian yang berupaya ganti presiden 2019 justru menggunakan jalan yang dibangun Jokowi," katanya.

Meski demikian, Ramses menilai tindakan pemasangan spanduk itu di jalur mudik tidak perlu dilakukan karena akan menciptakan pro dan kontra di masyarakat. "Saya pikir pendukung Jokowi tak usah membalasnya dengan pola demikian. Sebab akan menciptakan pro kontra di tengah masyarakat," tukasnya.

Direktur Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia Aditya Perdana menilai "wajar" pada tahun menjelang pemilihan presiden, pihak-pihak yang berkepentingan dalam konteks pemilu sedang mencari dukungan pemilih. "Baik yang pro maupun yang bukan pendukung Pak Jokowi akan melakukan hal yang sama," kata Aditya.

"Petahana pasti punya cara untuk mensosialisasikan program-program yang berhasil, apapun itu, semua kalau bisa dikeluarkan, sementara yang oposisi atau siapapun itu kan berusaha mencari celah, itu hukumnya memang begitu," kata Aditya lagi.

Momentum mudik di mana banyak orang ramai berkumpul dan berinteraksi, dikutip BBCIndonesia.com, menurut Aditya memang sering digunakan dalam upaya kampanye politik.

"Mudik gratis, misalnya, yang biasanya dilakukan oleh partai atau kandidat caleg tertentu, karena memang di situ ada kumpulan orang banyak, dan berusaha mendapat simpati dari peserta mudik gratis ini, asumsinya bersimpati pada partai yang memberikan," katanya.

Sementara bagi pengajar sosiologi komunikasi FISIP Universitas Diponegoro, Semarang, Triyono Lukmantoro, dia menilai bahwa anonimitas pembuat spanduk 'jalan tol Jokowi' tersebut menjadi persoalan tersendiri.

"Tepat menggunakan itu sebagai politisasi, tapi siapa? Kita tidak bisa menyebut (spanduk) itu (dibuat) pendukungnya Jokowi, dan agak sulit mengatakan itu pendukungnya oposisi, (karena) kita nggak tahu yang memasang siapa," kata Triyono.


Ulama Sulawesi Selatan Dukung Duet Jokowi-Airlangga

Ratusan Santri Long March 320 Kilometer Dukung Cak Imin Jadi Cawapres

Megawati Beri Masukan, Begini Kriteria dan Figur Cawapres yang Cocok Mendampingi Jokowi