Foto : Ilustrasi (istimewa)

Harga BBM non subsidi Naik, Begini Rincian Harganya

Jyg | Senin , 02 Juli 2018 - 04:25 WIB

Publicapos.com - PT Pertamina (Persero) merilis harga baru jenis bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang berlaku mulai Minggu, 1 Juli 2018 kemarin. Sebelumnya, kenaikan BBM non-subsidi pada Februari 2018 lalu.

Untuk BBM yang mengalami kenaikan harga aantara lain adalah jenis Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Berdasarkan daftar harga terbaru yang dirilis Pertamina, harga Pertamax di wilayah Pulau Jawa dan Bali yang sebelumnya Rp8.900 per liter naik Rp600 menjadi Rp9.500 per liternya.

Harga Pertamax Rp9.500 per liter juga ditetapkan untuk wilayah NTB, NTT, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu. Sementara untuk Provinsi Riau, Pertamax naik menjadi Rp9.900 per liter.

Ada pun di Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku, Papua dan Papua Barat, Pertamax menjadi seharga Rp9.700 per liter.

Harga Pertamax Turbo di Provinsi Jakarta, Banten, Jabar juga mengalami kenaikan menjadi Rp10.100 per liter. Sementara itu, di wilayah Jateng, DI Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali Pertamax Turbo menjadi seharga Rp11.150 per liter.

Informasi mengenai daftar harga terbaru BBM non-subsidi per 1 Juli 2018 ini dapat dilihat melalui laman resmi Pertamina. Selain Pertamax dan Pertamax Turbo, harga BBM jenis Dexlite dan Pertamina Dex serta solar dan minyak tanah non-subsidi juga mengalami perubahan di beberapa wilayah.

Alasan Pertamina Naikkan Harga
VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Adiatma Sardjito menjelaskan sejumlah faktor yang menjadi alasan menaikkan harga. Kenaikan harga sendiri untuk Pertamax Rp 600.

"Pertama alasannya kenapa (menaikkan harga), kan itu harga minyak dunia naik, dan faktornya 90% karena harga bahan bakunya ya. Kita kan sudah net oil importir. Itu yang pertama," katanya.

Dia pun menjelaskan dalam 3 bulan terakhir harga minyak dunia belum stabil. Jika dihitung rata-rata selama kurun waktu tersebut harganya sudah di atas 70 dolar AS/barel .

"Rata rata sudah di atas 70 dolar AS dalam 3 bulan ya. (Harga minyak dunia) memang belum stabil kan. Bisa naik bisa turun kita ambilnya rata rata," jelasnya.

Alasan kedua, kata dia karena badan usaha memang boleh menyesuaikan harga BBM untuk jenis Pertamax dan jenis bahan bakar umum lainnya. Berbeda dengan Premium yang harganya ditetapkan oleh pemerintah.

"Yang kedua aturannya memang kalau Pertamax itu boleh dinaikkan, ditentukan oleh badan usaha setelah mendapat izin dari pemerintah, dalam hal ini Kementerian ESDM," sebutnya.

"Kemudian harga yang lain, supaya nggak misleading, harga Premium itu kan yang ditetapkan oleh pemerintah tetap tidak naik dan Pertalite tetap tidak naik," ucapnya.


Pemerintah Harus Dengar Aspirasi Pekerja Pertamina

Piala Dunia 2018 Picu Kenaikan Harga Telur

Proses Divestasi saham Freeport Indonesia Telah Dicapai