Foto : Pelaksanaan PBAK UIN Raden Fatah Palembang yang dibuka pada Senin (13/08/2018). Doc/Istimewa

Kemenag: Menjadi Islam dan Indonesia Sangat Penting, Bukan Malah Dipertentangkan

kis | Senin , 13 Agustus 2018 - 23:26 WIB

Publicapos.com - Mencintai tanah air Indonesia tidak kalah penting dengan mencintai agama Islam. Bahkan Islam memandu kita untuk mencintai tanah air dan dihitung sebagai kadar keimanan (hubbul wathon minal iman).
 
Pernyataan itu disampaikan Ruchman Basori Kepala Seksi Kemahasiwaan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama saat didaulat menjadi nara sumber Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Senin (13/8).
 
“Menjadi Islam dan menjadi Indonesia sangat penting, bukan untuk di pertentangkan," tegasnya dihadapan ribuan mahasiswa. 
 
Ruchman menyampaikan, mahasiswa sebagai agent of social change berperan penting sebagai desiminator Islam yang moderat. Hal itu dilakukan untuk menangkal paham dan idiologi intoleran dan radikal yang sedang melanda bangsa ini.
 
Aktivis Mahasiswa ’98 ini prihatin, dengan angka pelajar dan mahasiswa yang cukup tinggi terpapar paham radikal. “Mahasiswa UIN harus menjadi garda terdepan moderasi beragama di Indonesia,” tegasnya.
 
Mengutip hadits Nabi Muhammad Saw, Ruchman mengatakan, secara teologis kecintaan kita terhadap negara dan bangsa telah dicontohkan oleh Rasululloh Saw. Dalam hadits Bukhari Nabi berdoa: “Allohumma habbib ilaina al-madinah kahubbinaa Makkah auw asyadda-Ya Allah, jadikan kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah, atau melebihi cinta kami pada Makkah.”
 
Dalam konteks Indonesia, telah dilukiskam dalam sebuah Mars Hubbul Wathon yang dikarang oleh KH. A. Wahab Chasbullah Pahlawan Nasional dari Jombang yang kini dinyanyikan disetiap kesempatan.
 
Alumni IAIN Walisongo ini berharap mahasiswa PTKI harus menjadi nara sumber bagi wacana ke-Islaman yang rahmatan lil ‘alamin. “Mahasiswa PTKI harus melakukan counter wacana dan counter idiologi untuk menagkal paham Islam yang radikal,” tegasnya.  
 
Rina Antasari Wakil Rektor Bidang Kemahisiswaan dan Kerjasama UIN Raden Fatah mengatakan kegiatan PBAK merupakan momen penting mengenalkan mahasiswa baru akan tradisi akademik dan kemahasiswaan dengan baik sebagai bekal mereka menempa diri di kampus.
 
Rina menyampaikan rasa bangganya bahwa pada tahun ini mahaiswa baru UIN meningkat tajam dibanding dengan tahun sebelumnya. “Potensi besar mahasiswa UIN Palembang ini bisa menjadi modal dasar untuk kemajuan kampus ini,” katanya.
 
Tidak lupa kepada mahasiswa Rina berpesan agar belajar dengan giat tidak saja ilmu-ilmu wajib diperkualiahan tetapi belajar dalam arti luas di kancah pergulatan intelektual di kampus ini.
 
PBAK akan dilaksanakan pada tanggal 13-16 Agustus 2018 dan telah dibuka secara resmi oleh Sairozi Rektor UIN Palembang. Pada tahun akademik 2018/2019 PBAK diikuti oleh 4.333 mahasiswa yang tersebar di 9 Fakultas yaitu Fakultas Syariah dan Hukum Islam 651 orang, Ilmu Tarbiyah dan Keguruan 1.563 orang, Ushuluddin dan Pemikiran Islam 327 orang, Adab dan Humaniora 261 orang, Dakwah dan Komunikasi 537 orang, FEBI 610 orang, FISIP 91 orang, Saintek 134 orang dan Fakultas Psikologi 162 orang.


Kemenag: Idealisme Sifat Luhur Kepahlawanan Yang Harus di Teladani

Kemenag Minta Pimpinan Ormawa PTKIN Taat Aturan

Kemenag Gelar Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa, Raih Total Hadiah 45 Juta!

Direktur PTKI Tutup Pekan Kreativitas Mahasiswa PTKIN Se-Sumatera