Foto : ilustrasi

Kembali Ke Fitrah Kemanusiaan, Bangsa yang Merdeka

Admin | Rabu , 22 Agustus 2018 - 10:10 WIB

Waktu berlalu seolah begitu cepatnya. Tak terasa, kini kita tengah memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia. Ada rasa syukur yang saya panjatkan kepada Tuhan atas segala perubahan positif dan pencapaian kasat mata saat ini. Namun, ada juga sepenggal harapan yang berharap bisa terwujud ke depan, seiring bertambahnya usia republik tercinta ini.
 
Jika dibandingkan dengan negara dalam rumpun melayu seperti Malaysia yang usia merdekanya 61 tahun, yang kebetulan juga merdeka di bulan yang sama, ada rasa iri tersendiri atas pencapaian mereka. Tetapi perlu dipahami, bahwa permasalahan bangsa Indonesia yang terdiri dari belasan ribu pulau atau dikenal dengan negara kepulaun  begitu kompleks. Jika berada di posisi bangsa Indonesia, mungkin tak mudah bagi penguasa negeri jiran itu meracik formula untuk menyelesaikan kompleksitas permasalahan bangsa, dan tentunya membutuhkan waktu yang tidak singkat pula. 
 
Salah satu cara yang mungkin bisa menjadi formula akselerasi kemajuan Indonesia agar bisa berkedudukan sejajar dengan bangsa lain adalah kembali melihat ke dalam diri bangsa Indonesia sendiri dan menemukan kembali jati diri bangsa Indonesia yang sejati sebagai fondasi. Kemudian membangun budaya  hingga menjadi peradaban. Ya, peradaban. Peradaban yang terbuka dan mampu menyerap serta mentransformasikan kongkrit nilai-nilai positif yang bersinggungan dengan bangsa lain dengan tetap mawas diri terhadap infiltrasi negatif yang berpotensi ikut mengalir bersama.
 
Meminjam istilah disruptive innovation yang dicetuskan Clayton Christensen tahun 1997, yakni bagaimana bangsa ini tidak hanya berorientasi memenuhi kebutuhan bangsa saat ini, tetapi juga mampu mengantisipasi kebutuhan bangsa hingga masa mendatang dengan inovasi di berbagai lini kehidupan. Upaya ini bisa ditempuh dengan menyatukan visi think big, menyatukan irama langkah, bergerak bersama-sama dalam ketukan yang sama, dan dilakukan oleh seluruh komponen bangsa dengan menjaga keadaban sehingga kita semua menemukan kembali Indonesia sejati. Cinta Indonesia dengan keindonesiaan dan bangga dengan keIndonesia-an, tidak lagi “Damn, I love Indonesia” tapi cukup dengan “Aku Cinta Indonesia”.
 
Penulis:
Iwansy
 


Kekecualian Nahdlatul Ulama

Urgensi Regulasi Sistem Ekonomi Pancasila

Banyak Pemimpin Muda Terlibat Korupsi, Citra Generasi Milenial Dipertaruhkan