Foto : Menpora, Imam Nahrawi saat menyampaikan materi pada seminar nasional bertajuk Pemuda dan Masa Depan Bangsa oleh IQRA DPW DKI Jakarta, di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Rabu (31/10).

Menpora Imam Nahrawi Pesan kepada Pengurus IQRA DKI Jakarta, Hasil Riset Harus Bisa Diimplementasikan

kis | Rabu , 31 Oktober 2018 - 21:51 WIB

Publicapos.com - Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi mengapresiasi gagasan pembentukan dan sekaligus pelantikan pengurus Indonesian Qualitative Researcher Asspciation (IQRA)  DPW DKI Jakarta. Ungkapan itu disampaikan Nahrawi pada Saat mengisi Seminar Nasional IQRA DKI Jakarta, Rabu (31/10).
 
Kepada semua peneliti IQRA, pemuda kelahiran Bangkalan itu berpesan,  bagaimana sebuah penelitian harus ada keterkaitan nyata dan dapat diimplementasikan dengan kebijakan-kebijakan di lapangan. Dalam hal ini,  Nahrawi mengajak pengurus dan anggota IQRA DKI Jakarta untuk meneliti terkait persoalan keolahragaaan. 
 
"Saya berharap dan minta tolong terkait persoalan keolahragaan dan kepemudaan, implementasi hasil yang dicapai harus mengikat kepada pengambil kebijakan agar lahir regulasi, kebijakan dan politik anggaran bagi keterlibatan anak muda," ujar Menpora.
 
Menpora mengharapkan IQRA dapat bekerjasama dengan Kemenpora terkait menjawab tantangan dan peluang pemuda di masa-masa yang akan datang.
 
"90 tahun yang lalu pemuda-pemuda kita telah bersatu hingga melahirkan sebuah Sumpah Pemuda 1928 yang hingga saat ini kita terus menghafalkan dan ingin mengamalkan serta ingin menjaganya hingga kapanpun, generasi itupun telah memberikan makna cukup besar bagi tegaknya NKRI," tuturnya.
 
Melihat kondisi pemuda sekarang,  Nahrawi juga merasa galau. Apakah generasi saat ini mampu dan masih mengingat sumpahnya, ikrarnya, jasa-jasanya maupun apapun yang dihasilkan saat ini untuk generasi selanjutnya. "Generasi kita saat ini cukup mudah berubah sikap dan pikiran terlebih cenderung suka menyalahkan orang lain karena informasi dan bacaan-bacaan yang terbatas, padahal 1928 generasi kita dengan fasilitas terbatas mampu melepaskan ego-egonya demi Merah-Putih," kata Menpora.
 
"Di depan mata kita banyak tantangan-tantangan yang memaksa para pemuda kita peduli terhadap literasi, peduli dengan bacaan-bacaan yang bisa membuka jendela dunia dan hal-hal besar lainnya yang perlu diketahui, terima kasih kepada IQRA dan para pemuda kita harus sering-sering datang ke Perpusnas agar lebih banyak hal yang bisa dijadikan ilmu pengetahuan bagi penguatan mental dan spiritual," tutup Menpora.
 
Sementara itu,  Burhan Bungin, Ketua Umum IQRA Nasional menegaskan, fenomena pemuda yang terjadi saat ini merupakan pengulangan apa yang terjadi di masa lalu. Hanya saja,  ruang lingkupnya berbeda.  Kehadiran teknologi telah menjadikan generasi milenial bisa bergerak cepat,  lebih kreatif dan mencakup seluruh dunia. "Generasi muda masa lalu itu bergeraknya seperti pejumlahan, sedikit sedikit, tetapi sekarang anak muda bergerak seperti perkalian, lebih cepar," terangnya. 
 
Salah satu bukti nyata perbedaan pemuda itu, kata Dekan Fikom Universitas Ciputra, dilihat dari penghasilannya. Anak muda sekarang pendapatnya bisa mengalahkan orang tuanya berkali-kali lipat. Hal ini dikarenakan mereka pemuda mampu memanfaatkan peluang pelaung kemajuan teknologi dan menjadikan ladang bisnis seperti startup. Burhan juga mencatut beberapa nama anak muda Indonesia yang mempu menjadi inspirator dalam bidang startup hingga dikenal di kancah Asean, diantaranya Rorian Pratyaksa pendiri PayAccess, Rich Brian kini berprofesi sebagai rapper dengan single perdana "Dat $ tick" lalu ada pula Dian Pelangi seorang desainer busana muslim, serta Adrian dan Eugenie Patricia Agus perintis Puyo Desserts.
 
Pada akhir penyampaian materi,  Burhan memberikan catatan penting untuk pemuda di era milenial ini,  di antaranya anak muda harus memiliki akhlak, mental yang kuat dan mencintai tanah air, perlunya budaya riset di kalangan anak muda, serta menciptakan inovasi dan mengembangkan kekuatan fantasi. 
 
Andi Budi Sulistijanto, Wakil Ketua Lakspedam PBNU dalam penyampaian seminarnya, menegaskan pentingnya peran pemuda zaman sekarang.  Dalam materi bertemakan,  Paradoks Kepemudaan Indonesia: Memimpin atau Dipimpin, sosok yang kerap disapa Gus Andi itu mengajak para intelektual Iqra untuk tidak apolitis dengan kondisi perpolitikan negeri ini sekarang.  Menurutnya peran intelektual dibutuhkan dalam menjadi pemimpin. "Ada kalanya kita dipimpin,  ketika itu pula kita harus jadi loyalis, ada di mana masa kita harus memimpin." tandasnya.


Persiapan Asian Games ke-18, Presiden OCA Optimis Dapat Terlaksana

Pemerintah berkomitmen memangkas birokrasi organisasi olahraga

Beri Kuliah Tamu di UNISMA, Menpora Ajak Masyarakat Gemar Olahraga