Foto : Istimewa

Ikut Fit and Proper Test KPI, Wadek III Fakultas Syariah dan Hukum UINSA Usung Tiga Misi

kis | Senin , 08 Juli 2019 - 13:48 WIB

Publicapos.com – Wakil Dekan III Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Ahmad Fajruddin Fatwa termasuk peserta yang beruntung karena bisa malalui tahapan seleksi panjang hingga masuk uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) menjadi komisoner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat setelah mengalahkan 207 peserta yang lolos seleksi administrasi.
 
Meskipun Fajar merupakan tenaga profesional pendidik dengan kepakaran di bidang hukum yang sudah berpangkat lektor kepala, dunia penyiaran bukanlah merupakan hal yang baru. Sejak 2014, Ahmad Fajruddin Fatwa adalah narasumber tetap Program Fiqh Kontemporer Radio SAS FM Surabaya, dan beberapa TV lokal Jawa Timur.  
Calon Komisioner KPI yang juga pendiri PMII Universitas Bhayangkara mengusung visi utama “Optimalisasi Peran dan Konsolidasi Potensi Kelembagaan Komisi Penyiaran Indonesia dalam Pembangunan Nasional.”
 
Adapun tiga misi yang diusungnya adalah, pertama merumuskan kebijakan pengaturan, pengawasan dan perlindungan hak masyarakat atas siaran edukatif, produktif, dan integratif secara inovatif terencana dan terstruktur; kedua mengembangkan program riset unggulan yang menjadi basis kebijakan pengawsan dan pengembangan industri siaran nasional; dan ketiga meningkatkan kapasitas kelembagaan dan partisipasi masyarakat dalam kebijakan sistem pengawsan penyiaran di Indonesia. 
 
Menurut pria yang juga instruktur tetap sekolah Hukum PMII Rayon FSH UINSA, kinerja KPI selama ini patut diapresiasi apalagi dalam mengawal proses berjalannya penyiaran selama proses pemilihan umum serentak.
 
Namun, Fajar menilai kegiatan literasi media di masyarakat perlu ditingkatkan kemudian sistem pengawasan dan pemberitan sanksi pada media yang melanggar aturan harus bersifat edukatif. “Namanya sanksi pada media penyiaran itu harus ada, kalau hanya penutupan saluran saja kurang memberikan dampak, harus berdampak edukatif pada masyarakat,” tegasnya. 
 
Sosok yang juga pengasuh Pondok Pesantren Banu Hasyim Janti Waru Sidoarjo dan Bani Hasyim lengkong Gresik tersebut mengaku tidak menyangka dapat melewati empat tahapan seleksi tersebut dengan lancar. “Semoga fit dan proper test ini membawa hasil yang khusnul khotimah, amin,” ujarnya pada Publicapos.com usai menjalani fit and proper test di Komisi 1 DPR RI, Senin (8/7/2019).
 
Perlu diketahui para peserta calon komisioner KPI tersebut harus melalui lima tahapan untuk menjadi komisioner. Sebagaimana keterangan dalam laman kominfo, pertama seleksi administrasi, kedua seleksi penulisan makalah, ketiga asesmen psikologis, keempat wawacara, dan kelima yaitu fit and proper test di bawah Komisi 1 DPR RI yang saat ini tengah berlangsung. 
 
Sementara itu, dalam lembar cv yang ditunjukkan Fajar merupakan sosok yang juga banyak memiliki pengalaman di luar negeri mengikuti kursus singkat, seperti di University of Melbourne, University of Canberra, University of Sydney, St. Francis Xavier University, dan program leadership STFX University, Canada.
 
Selain itu, selama 4000 Jam Fajar berkecimpung di project Eltiss-AUSAID yang didanai Mora dan AusAId. Beliau termasuk instruktur dan kontributor  resources pack yang hingga saat ini masih dipakai guru-guru menengah Sekolah Islam di Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan lombok. 
 


Temu DEMA dan SEMA PTKIN Se-Indonesia di PIONIR IX Malang

Rangkaian PIONIR, Kemenag Gelar "PTKIN Bersholawat Bersama Gus Muwafiq"

Usung Tema “Spirit of Unity” Kemenag Gelar PIONIR di Malang